Riwayat transaksi

Selama di sini, saya hampir tidak pernah bawa uang tunai terlalu banyak. Uang tunai yang ada di dompet paling hanya sekitar €20 saja. Kalau saya belanja di supermarket, saya selalu menggunakan kartu debit, kalau di sini mungkin lebih dikenal sebagai [PIN](http://www.pin.nl/en-US/Pages/default.aspx) card. Beli tiket angkutan umum, kereta, bayar kosan, dan sebagainya juga menggunakan itu. Saya hanya menggunakan uang tunai pada toko-toko yang tidak miliki alat debit ini, misalnya kalau jajan kebab atau beli sesuatu di toko di pinggir jalan. Beberapa toko kadang mengutip biaya tambahan kalau menggunakan kartu debit jika belanja kurang dari batas tertentu, untuk yg satu ini saya lebih memilih membayar tunai. hehehe..

Selain karena tidak perlu bawa uang tunai banyak-banyak dan kartu yang relatif aman karena dilindungi sebuah PIN kalau ingin digunakan, seluruh transaksi yang pernah saya lakukan akan tercatat di bank. Dulu awal-awal saya diminta untuk melaporkan seluruh transaksi ke Depkominfo dan dengan selalu menggunakan kartu debit, saya dapat membuat laporan tersebut dg menyalin riwayat transaksi di Bank.

Ngomong-ngomong tentang riwayat transaksi, situs Internet banking dari bank yang saya gunakan di sini memungkinkan saya untuk melihat **seluruh** transaksi dari awal saya membuka rekening. Saya juga bisa mengunduh daftar transaksi bulanan dalam berbagai format seperti PDF, Text (CSV), dan [MT940](http://www.mt940.nl/) untuk versi yang lebih ramah dengan komputer. Sangat menarik bukan?

Kalau ingin dibandingkan dengan bank yang ada di Indonesia, setidaknya dg BCA, BNI, dan Bank Mandiri yang saya gunakan, pada ketiga bank ini saya hanya dapat melihat riwayat transaksi sebulan terakhir. Yang saya tahu, BCA memungkinkan saya untuk melihat daftar transaksi sebelumnya namun saya harus membayar. Kalau tidak salah sekitar 25rb untuk setiap salinan daftar transaksi selama 1 bulan. Untuk jangka waktu satu tahun, ya tinggal kalikan sendiri berapa yang harus saya bayar. Intinya: ribet!

Saya juga menjadi pelanggan Indosat Matrix. Seingat saya, dulu saya juga selalu menerima riwayat telepon/sms yang saya lakukan setiap bulan. Indosat mengirimnya beserta surat tagihan pembayaran bulanan. Suatu waktu, Indosat tidak lagi mengirim daftar telepon/sms ini sehingga saya harus pergi Galeri Indosat untuk mendapatkannya. Kalau tidak salah awalnya gratis dan kalau tidak salah juga sekarang saya harus bayar.

Jika mendapatkan riwayat transaksi ini melibatkan barang yang ada secara fisik, misalnya kertas dan tinta, mungkin sangat jelas sekali bahwa ada ongkos yang diperlukan tuk mendapatkannya. Namun bukannya sekarang katanya sudah jaman digital dimana seluruh informasi bisa diperoleh lewat Internet? Sepertinya para bank dan operator telepon ini belum menjadikan Internet sebagai aset penting yang bisa dieksploitasi besar-besaran. Untuk bank-bank Indonesia yang saya sebut tadi, setidaknya bisa saya lihat dari situs Internet banking mereka yang menurut saya tidak nyaman digunakan.

Saya suka bertanya-tanya, apakah batasan seperti ini ada karena regulasi atau masalah teknis? Ada yang tau? Selain itu, bukannya hak pelanggan ya tuk mendapatkan riwayat transaksi ini?

Nilai default

Mengapa pengguna harus sampai perlu menghitung hari?

**ABN AMRO**

Tidak ada acara menghitung hari karena seluruh daftar mutasi bisa langsung dilihat di halaman muka. Selain itu, seluruh transaksi **dari awal buka rekening** sampai **transaksi terakhir** bisa dilihat dan ditelusuri. Asik sekali bukan?

ABN AMRO - Mutations

Yak, itu daftar kapan saya ke supermarket.. haha..

**BNI**

Tidak perlu memasukkan batas hari. Seperti yang tertulis di sana, 30 transaksi terakhir atau transaksi dalam satu bulan terakhir akan ditampilkan.

BNI - Mutasi

**Bank Mandiri**

Nilai default sudah lumayan walau cuma ngasih 3 hari.

Bank Mandiri - Mutasi

**BCA**

Paling merepotkan.

BCA - Mutasi

Silakan baca juga

Bagaimana menurut Anda?