Tagihan tahunan

Sekarang sudah bulan Maret dan ini artinya amplop hijau dari Gemeente alias pemerintah daerah dan amplop putih/biru dari Waternet akan datang! Amplop2 ini berisi Acceptgiro alias formulir pembayaran terkait bbrp hal xD Barhubung jumlahnya cukup signifikan, mari kita sekalian lihat dan catat apa aja sih yang ditagih.

Amplop pertama datang dari Gemeente. Dari sekian banyak hal yang bisa ditagih, yang sekarang relevan untuk saya adalah yang berikut ini. Oya angka2 ini bisa berubah tiap tahunnya dan yang saya pakai ini adalah untuk tahun 2015.

  • Onroerende-zaakbelastingen (OZB) alias pajak bangunan. Jumlahnya itu sekian persen (tepatnya 0,06228%) dari nilai properti yang (sepertinya) dihitung/ditentukan dari Gemeente. Jadi andai nilai rumah adalah 100 ribu euro, maka yang bakal ditagih adalah sekitar €63.

    Fun fact: di Amsterdam sini status tanah itu nyewa! Jadi kalau kita beli rumah, ya itu cuma tuk bangunannya aja. Si tanah tetep dimiliki oleh Gemeente (kayanya sih). Tiap daerah punya aturan sendiri termasuk yang status tanahnya adalah hak milik juga.

  • Afvalstoffenheffing yaitu uang kebersihan. Besarnya tergantung jumlah orang yang tinggal di sebuah alamat dan uniknya pilihannya cuma dua yaitu sendiri atau lebih dari satu orang xD Tuk tahun 2015 ini, si Gemeente bakal nagih €240 tuk satu orang dan €320 jika ada lebih dari satu orang.

  • Rioolheffing untuk saluran pembuangan. Besarnya dipukul rata sama semua yaitu sebesar €149.41.

Contoh hal lain yang bisa ditagih tapi gak relevan tuk saya itu pajak anjing. Jadi tiap orang yang memelihara anjing bakal harus bayar sekian euro.

Selain si Gemeente, Waternet yang ngurusin segala hal yang terkait dengan air juga punya tagihan tahunan. Ada dua/tiga hal yang ditagih oleh Waternet:

  • Watersysteemheffing atau pajak air. Besar tagihannya akan disesuaikan dengan properti/tanah yang kita punya. Tuk pemilik bangunan, sama seperti pajak bangunan di atas, besarnya akan dihitung berdasar nilai bangunan sebanyak 0,017089%.

  • Zuiveringsheffing atau Verontreinigingsheffing tergantung kondisi koneksi bangunan dengan saluran pembuangan. Komponen tagihan ini dipakai untuk pemurnian air yang “tercemar” oleh penghuni bangunan xD Besarnya dihitung berdasar jumlah pencemar, alias jumlah orang. Kalau cuma satu orang, akan dikenai tagihan sebesar 1 unit dan kalau ada dua atau lebih, tagihan akan datang untuk 3 unit pencemar. Tahun 2015 ini, ongkosnya adalah €53,76 per unit.

Kalau angka-angka di atas dijumlah semua, akan bikin puyeng jika mesti dibayar sekaligus. Untung aja si Gemeente (sayangnya si Waternet ngga demikian) menyediakan bbrp metode pembayaran. Dibayar sekaligus, dalam 2 kali pembayaran, atau 8 kali namun dengan tagihan otomatis. Sepertinya juga tiap bulan mesti menyisihkan sekian euro supaya gak terkaget2 setiap bulan Maret/April xD

Kalau ada yang salah2 atas penjabaran di atas, tolong kasih tau ya 😀

~

Pertama: Amsterdam West, September 2007 – Juli 2008

Jatah dari kampus tuk para pendatang baru. Gedung apartemen berupa susunan kotak kontainer bercat putih dengan kaca warna-warni. Terletak persis di sebelah kanal dan sebuah kapal pesiar yang disulap jadi asrama mahasiswa xD

Kedua: Amsterdam Oost, September 2008 – April 2010

Ini juga jatah dari kampus yang didapat dengan harap-harap cemas karena jatah yang terbatas. Gedung apartemen tua yang juga dilengkapi dengan fasilitas tikus xD Walau begitu, lokasi sangat dekat dengan kampus dan harganya juga harga mahasiswa.

Ketiga: Diemen Centrum, Agustus 2010 – Juni 2011

Tempat pertama yang didapat dari agen rumah. Gedung lumayan baru, mungkin dari sekitar awal tahun 2000 *sotoy* sehingga semuanya masih bersih dan kinclong. Lokasi ada di daerah kecil bukan Amsterdam yang berada tepat di sebelah Amsterdam. Kalau Amsterdam itu Cirebon, Diemen ini mungkin Kuningan. Walau “di luar kota”, untungnya jarak ke kampus masih deket sekitar 3 km saja 😀

Keempat: Amsterdam Nieuw-West, Mei/Juni 2011 – …

Dari Barat Laut, lalu ke Timur, lalu ke Tenggara agak Utara sedikit, selanjutnya pindah lagi ke daerah Barat. Tempat yg ini belum pernah ditempati jadi belum tau suasananya seperti apa. Dari pengamatan sebentar, lokasi cukup enak karena persis di depan pusat belanja dengan 3 supermarket hohoho.. kantor pemda, rumah sakit, toko kelontong, obat2an/peralatan mandi, toko daging halal, toko kebab sampe resto indonesia juga gak jauh dari rumah. Stasiun kereta dan metro kira2 bisa dicapai dengan 10 menit jalan kaki.

Satu hal yang membedakan tempat ini dengan 3 tempat sebelumnya adalah apartemen ini tidak hadir dengan isinya. *siap2 jadi tukang cat dan pasang lantai*

Setelah lulus sekolah di Belanda..

.. kalau mau dan butuh, dokumen seperti ijazah bisa dilegalisir agar (mungkin) “semakin diakui”. Legalisir ini mungkin perlu andai mau nerusin kerjaan di dunia akademis, tapi entahlah ini jg cuma kira2 aja hehe..

Berhubung ngga ada salahnya dan gak ada ruginya (err.. tetep perlu keluar uang yg ngga sedikit sih), saya memutuskan untuk melegalisir ijazah saya. Setelah tanya teman dan baca petunjuk di website organisasi terkait, saya harus ke tiga tempat untuk melegalisir ijazah saya, yaitu IB-Groep di Groningen, Departemen Luar Negeri Belanda di Den Haag, dan ke KBRI yang juga di Den Haag.

Sebelum datang ke IB-Groep, saya perlu mengirim salinan dokumen yang mau dilegalisir ke mereka, bisa via surat, fax, maupun email. Mereka akan mengecek dulu apakah dokumen tsb bisa dilegalisir atau tidak. Setelah mendapat konfirmasi, baru kita bisa datang ke kantor mereka sambil membawa dokumen aslinya. Sebenarnya mereka juga menerima pengiriman dokumen melalui surat, namun datang dibawa langsung sepertinya lebih baik. Dengan kata lain, saya akan ke Groningen.

Groningen berada di Belanda bagian utara, sejauh 2.5 jam perjalanan naik kereta dari Amsterdam. Hari Rabu kemarin, saya berangkat jam 9 pagi demi mendapatkan diskon karcis sebesar 40% sehingga saya cukup perlu bayar sekitar 25 euro saja. Berhubung saya jg mau ke Den Haag, saya membeli tiket sehari penuh bebas ke mana saja di Belanda seharga sekitar 26 euro, sudah dipotong diskon. Perjalanan ternyata tidak begitu lancar berhubung kereta pertama yg perlu saya naiki telat sekitar 20 menit ditambah salah milih kereta sehingga perjalanan jadi mundur 1 jam -_-

Sampe di Groningen jam 12 lewat, saya lgs ke kantor IB-Groep yg ngga begitu jauh dari stasiun, sekitar 10 menit jalan kaki. Ternyata kantor IBGroup itu kecil dan cukup terpencil sampe2 agak susah nyari pintu masuknya, petugas yg terlihat di sana jg paling cuma 2 atau 3 orang. Saya serahkan ijazah saya dan tidak sampai 10 menit kemudian legalisir tahap pertama ini selesai. Saya jg perlu bayar 6 euro tuk “minta cap” di IBGroep ini.

Sebelum pulang, saya diberi petunjuk ke mana saya harua pergi selanjutnya, yaitu ke Deplu Belanda. Ternyata e ternyata, setelah saya baca, bagian legalisir di Deplu Belanda cuma buka sampe jam 12.30 -_- batal deh ke Den Haag hari itu. Besok2 lagi deh..

Hari Jumat ini saya menyempatkan waktu lagi tuk ngurusin legalisir setelah hr Kamis kemarin ngga bisa krn harus nunggu kiriman dokumen penting =D berangkat jam 9 lewat dan sampe di tujuan sekitar jam 10.30. Nomor antrian menunjukkan saya harus nunggu 8 org di depan. Ngga nyampe 10 mnt kemudian, nomor saya dipanggil dan lalu saya menyerahkan ijazah saya tuk dilegalisir. Biaya “cap” di sini ternyata 10 euro per lembar. Saya diberi tahu bahwa dalam stengah jam, dokumen saya akan siap dan tunggu panggilan. Sekitar dua puluh menit kemudian nomor saya dipanggil. Saya ambil ijazah saya dan lalu pergi ke KBRI.

Bagi yang ingin melegalisir di Deplu Belanda, sebaiknya dokumen sudah diserahkan sbelum jam 11.30 karena mereka bisa menjanjikan legalisir akan selesai dalam 30 menit. Jika lewat dr jam 11.30, maka dokumen bisa (harus?) diambil keesokan hari. Kira2 begitu informasi yg tertulis di sana.

Sekitar jam 11.30 saya sampai di KBRI. Lgs disambut dg bunyi bel di depan pintu yg menandakan kunci pintu sudah dibukakan dari dalam hehe.. Saya tanya ke petugas di depan kalau mau legalisir mesti ke mana dan dijawab dg “tanya aja di dalam” -_ya sudah saya masuk dan naik ke lantai satu, tempat dulu saya ganti alamat di paspor. Di lantai atas memang ternyata ada loket tuk urusan legalisir. Baguslah berarti gak nyasar hehe.. Ngurusin legalisir di KBRI ini ngabisin waktu sekitar 15 menit dan biayanya 20 euro per lembar, duh makin mahal lagi -_– Setelah semua beres, akhirnya saya pulang dg membawa ijazah yg sudah mendapat 3 buah cap legalisir dr 3 tempat berbeda.

Sbg rangkuman, kalau mau melegalisir dokumen sekolah di Belanda, tahapannya adalah sbg berikut:

  1. Kirim salinan dokumen yg mau dilegalisir ke IB-Groep via surat, fax, atau email dan tunggu konfirmasi dr mereka
  2. Setelah dapet konfirmasi dari IB-Groep, datang ke kantornya di Groningen sebelum jam 16.00 dg membawa dokumen aslinya. Ada biaya 6 euro tuk setiap dokumen yg ada. Alamat: Steenhouwerskade 10, 9718 DA Groningen
  3. Datang ke Deplu Belanda (Ministrie van Buitenlandse Zaken) di Den Haag sbelum jam 11.30. Biaya legalisir sebesar 10 euro per dokumen. Alamat: Bezuidenhoutseweg 67, Den Haag
  4. Datang ke KBRI ke bagian konsuler di lantai satu. Biaya legalisir 20 euro per dokumen asli. Alamat: Tobias Asserlaan 8 2517 KC Den Haag

Identitas

Ceritanya saya mau apply [return visa](http://www.student.uva.nl/english/practical_matters.cfm/1BB68DE8-7853-4CF0-95B333E198FB2E6E#p4) supaya bisa keluar dan masuk Belanda walau residence permit yg baru belum selesai dibuat. Berhubung di sini apa2 perlu janjian dulu, saya telepon lah itu [IND](http://www.ind.nl/EN/index.asp) tuk bikin janji. No teleponnya 0900-1234561. Uh.. premium number pula.

Mereka lalu nanya V-Number saya. Nomor KTP di sini spertinya. Tertulis di kartu verblijfsdocument bagian belakang. Sederetan nomor setelah tulisan VNR. Itulah V-Number.

Setelah itu, mereka tau nama saya, kapan residence permit yg sekarang berakhir. Mereka jg tau kalo residence permit yg baru belum diurus jadi saya blm bisa apply return visa.

Kalau kata teman yg sudah tinggal sekitar 5 tahun di sini, “jangan main2 dg identitas dg pemerintah belanda. mereka tahu!”

sepertinya memang begitu adanya..

Cara menyebrang jalan di Amsterdam

**Awas!** jangan asal dipraktekkan di daerah lain!

Aturan dasar: kalau gak ada mobil, maka menyebranglah.

Kalau di deket tempat Anda mau nyebrang ada zebra cross, maka gunakanlah zebra cross tsb.

Kalau yg mau disebrangi itu jalur tram/bis dan jalur tsb lagi kosong gak ada tram/bis yg lagi lewat, maka nyebrang aja. Walau ada tram/bis, tapi kalo tram/bis itu lg berhenti di halte, tetaplah menyebrang. Hati2 jangan sampe kaget kalo diklakson krn si tram/bis mau jalan!

Andai Anda berada di pusat keramaian seperti di daerah Centraal Station atau Dam Square, maka segeralah menyebrang bareng yang lain. Mobil bisa ngantri. Kecuali kalo ada yg ngatur loh ya.

Kalau nyebrang di persimpangan jalan, coba cek apakah aturan dasar di atas terpenuhi. Kalau ngga ada mobil, maka menyebranglah.

Kalau lampu nyebrang masih merah dan di persimpangan tsb jg ada mobil yg lagi berhenti krn lampu merah jg, maka tunggu sampe lampu nyebrang jadi ijo.

Tapi, kalo nekat mau nyebrang, ya nyebrang aja. Melewati depan mobil tsb tentunya.

Andai kurang nekat tapi gak sabar mau nyebrang, coba jalan dikit ke samping biar ngga di depan mobil yg lagi berhenti itu. Lalu nyebrang.

***

Emang mirip Jakarta =D jadi teringat Josep dan temannya yg nungguin lampu nyebrang sampe ijo padahal yg mau disebrangin itu adalah jalur tram yg lagi kosong =))

Stroopwafel

Salah satu kue/cemilan paling enak di sini. Yummmyyy..

![Stroopwafel](http://arsip.fajran.web.id/img/stroopwaffel.jpg)

Barusan juga nemuin sebuah perkumpulan menarik di Wikipedia yang bernama [Association of Stroopwafel Addicts](http://meta.wikimedia.org/wiki/Association_of_Stroopwafel_Addicts). Hahaha..

> Welcome to the **Association of Stroopwafel Addicts** (*ASA*). This is an association for people who have tasted a [Stroopwafel](http://en.wikipedia.org/wiki/Stroopwafel) at least *once* and like it very, very, very much. There is no obligation to be Dutch. Documentation on the History of the Stroopwafel in Wikimedia can be found on the official ASA posters. You are welcomed to print the poster yourself and hang it in all appropriate places. You may add yourself if you have tasted the taste of heaven, the stroopwafel. Only Dutch stroopwafels count!

Kayanya kalimat terakhir itu wajib.. haha.. Ah jadi pengen ke [Gouda](http://en.wikipedia.org/wiki/Gouda).

Jarak

Kira-kira, satu kilometer itu jauh atau dekat?

Satu kilometer itu kira-kira jarak dari [rumah di sini ke mesjid maroko](http://maps.google.com/maps?f=d&source=s_d&saddr=1094be&daddr=52.363585,4.935737+to:Insulindeweg+to:Minahassastraat&hl=en&geocode=%3B%3BFYf3HgMdf0ZLAA%3BFf7zHgMdXkdLAA&mra=dpe&mrcr=0&mrsp=1&sz=16&via=1,2&dirflg=w&sll=52.362563,4.936016&sspn=0.006434,0.019312&ie=UTF8&z=16) tempat dulu biasa jumatan. Berhubung ban sepeda bocor dan males tuk ke tukang sepeda, biasanya gw jalan kaki kalo mau ke mesjid. Kalau naik bis pun cuma berjarak sejauh 2 halte, rada-rada sayang ngabisin 2 strip strippenkaart yg kira-kira seharga 92 sen. Jadi, selain naik sepeda tentunya, paling enak jalan kaki aja.

Kalau di jakarta, satu kilometer itu kira-kira jarak dari [rumah ke pertigaan jalan joe](http://maps.google.com/maps?f=d&source=s_d&saddr=Jalan+Kelapa+Tiga&daddr=Jalan+Joe&hl=en&geocode=FV97n_8dTRheBg%3BFeCWn_8dBC5eBg&mra=ls&dirflg=w&sll=-6.321761,106.832578&sspn=0.010472,0.019312&ie=UTF8&ll=-6.321739,106.832685&spn=0.010472,0.019312&z=16) sono. Gw seumur-umur blom pernah nyobain jalan kaki dari rumah ke sana. Andai dulu mau ke pertigaan Joe tuk nunggu patas, pasti gw bakal dengan setia nunggu bis yg akan membawa gw dari depan rumah ke pertigaan Joe.

Walau sama-sama satu kilometer, mengapa satu kilometer di jakarta itu terasa lebih jauh dibanding satu kilometer di sini ya? Apa karena jalanan di sini itu rata, terkotak-kotak, lapang, dan tentunya ada tempat berjalan? Kalau di Jakarta kan rata-rata (ya setidaknya yg di deket rumah) jalannya itu naik turun lembah, berkelok2 gak jelas, dan gak ada tempat jalan kaki.