Clicks to balance

One of the things that I am sure I will miss when moving back to Indonesia is how convenient it is to do bank-related transactions in The Netherlands. Almost everything, if not all, is already connected and standardized. There is no need for virtual accounts, going through e-wallet from startups, dealing with transaction cost, etc because there is a widely approved payment system called iDEAL. Every time I go for online shopping, this is the only logo I need to see to be sure that I can do business with the shop.

This is probably one of a series of posts comparing banking in Indonesia and The Netherlands. First, we will see what it takes to do one of the most important task, in my view, in an online banking site/app: Checking the balance. I consider this to be a common task but apparently different banks have gone different routes to provide this very basic information.

I will be comparing different banks that I have access to: BNI, BCAJenius, HSBC, ABN AMRO, and Bunq. The number to measure here would be the number of clicks I need to do after the login page to see the current balance. What I show here is from what I gather on the 28th of June 2020.

BNI Desktop Web

BNI Internet Banking requires you to do 2 clicks “Rekening” and then “Saldo Rekening” to see a supposedly list of accounts and the balances.

1_o6atev462exmp_8jtmoh2w

 

BNI Mobile Web

The mobile web version, on the other hand, requires you to do 6 clicks (or 7 depending on how many accounts you have I guess), to get into the balance page.

The wording is consistent to the desktop version and the important bits are put at the top which helps the navigation.

1_jipl5cmsdloz9qfje9i3nw

BNI Mobile App

Apparently to login I need to enter the number from the ATM card. I will skip this since I am too lazy to find the card 😂

BCA Desktop Web

This old school looking page (I think they take if it ain’t broke, don’t fix it mantra religiously) requires you to go to “Account Information” page and then “Balance Inquiry” and thus needs 2 clicks.

The menu wording is probably clear enough but the first menu is put at the middle of big list of options. For me, that rarely use this page, I have to remind myself of what the menu option is. Also, the small text size does not help me at all.

bca

BCA Mobile Web

Short of similar to the desktop version, this one requires 2 clicks: “Informasi Rekening” and then “Informasi Saldo” (same wordings as above but different language — probably just my settings). The first menu is also not put up front but fortunately the list is smaller.

bcam2

BCA Mobile App

The mobile app version follows almost the same steps with an additional PIN entry page before getting into the final balance page. However, unlike both desktop and mobile web versions, the required 3 clicks are on the items put at the top.

bcaa

Jenius Mobile App

Unlike the above banks, this mobile app only bank shows the balance up front immediately after the login page. For me who consider checking the balance amount an important task to do, this really saves my time.

1_yw1ltdtdi8pz-u86hylkza

HSBC Desktop Web

HSBC also puts the balance information on the first page after you login. Zero clicks needed.

1_zi0xh3px8zzuvpuk2kd2nq

HSBC Mobile App

This version of HSBC online banking also shows the accounts and balances on the first page.

1_8tvupqoxucjax5qk7cyuzq

ABN AMRO Desktop Web

ABN AMRO also shows all bank accounts and the balances immediately after the login process.

1_rfv8jtsguetrpil8vmgypw

ABN AMRO Mobile App

Same as the desktop version, accounts and balances up front.

1_rr8l_iatmvxh3lywrj5sbg

Bunq Mobile App

Bunq is probably my favorite bank so far in terms of user experience. As expected, it also shows all accounts and balances on the first page.

1_iclr9hee2gectjlm1sccfa

Bunq Desktop Web

Following the same pattern as the mobile app’s, the Desktop Web version shows all accounts and the balances.

1_1bwf5redxabfwgxjdjievg

Conclusion

If I can take any conclusion at all, I think Indonesian banks have to step up their game and give user experience more priority. Jenius is an exception here and it’s really a breath of fresh air.

Riwayat transaksi

Selama di sini, saya hampir tidak pernah bawa uang tunai terlalu banyak. Uang tunai yang ada di dompet paling hanya sekitar €20 saja. Kalau saya belanja di supermarket, saya selalu menggunakan kartu debit, kalau di sini mungkin lebih dikenal sebagai [PIN](http://www.pin.nl/en-US/Pages/default.aspx) card. Beli tiket angkutan umum, kereta, bayar kosan, dan sebagainya juga menggunakan itu. Saya hanya menggunakan uang tunai pada toko-toko yang tidak miliki alat debit ini, misalnya kalau jajan kebab atau beli sesuatu di toko di pinggir jalan. Beberapa toko kadang mengutip biaya tambahan kalau menggunakan kartu debit jika belanja kurang dari batas tertentu, untuk yg satu ini saya lebih memilih membayar tunai. hehehe..

Selain karena tidak perlu bawa uang tunai banyak-banyak dan kartu yang relatif aman karena dilindungi sebuah PIN kalau ingin digunakan, seluruh transaksi yang pernah saya lakukan akan tercatat di bank. Dulu awal-awal saya diminta untuk melaporkan seluruh transaksi ke Depkominfo dan dengan selalu menggunakan kartu debit, saya dapat membuat laporan tersebut dg menyalin riwayat transaksi di Bank.

Ngomong-ngomong tentang riwayat transaksi, situs Internet banking dari bank yang saya gunakan di sini memungkinkan saya untuk melihat **seluruh** transaksi dari awal saya membuka rekening. Saya juga bisa mengunduh daftar transaksi bulanan dalam berbagai format seperti PDF, Text (CSV), dan [MT940](http://www.mt940.nl/) untuk versi yang lebih ramah dengan komputer. Sangat menarik bukan?

Kalau ingin dibandingkan dengan bank yang ada di Indonesia, setidaknya dg BCA, BNI, dan Bank Mandiri yang saya gunakan, pada ketiga bank ini saya hanya dapat melihat riwayat transaksi sebulan terakhir. Yang saya tahu, BCA memungkinkan saya untuk melihat daftar transaksi sebelumnya namun saya harus membayar. Kalau tidak salah sekitar 25rb untuk setiap salinan daftar transaksi selama 1 bulan. Untuk jangka waktu satu tahun, ya tinggal kalikan sendiri berapa yang harus saya bayar. Intinya: ribet!

Saya juga menjadi pelanggan Indosat Matrix. Seingat saya, dulu saya juga selalu menerima riwayat telepon/sms yang saya lakukan setiap bulan. Indosat mengirimnya beserta surat tagihan pembayaran bulanan. Suatu waktu, Indosat tidak lagi mengirim daftar telepon/sms ini sehingga saya harus pergi Galeri Indosat untuk mendapatkannya. Kalau tidak salah awalnya gratis dan kalau tidak salah juga sekarang saya harus bayar.

Jika mendapatkan riwayat transaksi ini melibatkan barang yang ada secara fisik, misalnya kertas dan tinta, mungkin sangat jelas sekali bahwa ada ongkos yang diperlukan tuk mendapatkannya. Namun bukannya sekarang katanya sudah jaman digital dimana seluruh informasi bisa diperoleh lewat Internet? Sepertinya para bank dan operator telepon ini belum menjadikan Internet sebagai aset penting yang bisa dieksploitasi besar-besaran. Untuk bank-bank Indonesia yang saya sebut tadi, setidaknya bisa saya lihat dari situs Internet banking mereka yang menurut saya tidak nyaman digunakan.

Saya suka bertanya-tanya, apakah batasan seperti ini ada karena regulasi atau masalah teknis? Ada yang tau? Selain itu, bukannya hak pelanggan ya tuk mendapatkan riwayat transaksi ini?